| Fatwa dan Nasehat Agama | Hukum - Hukum Perdagangan |
| Ditulis oleh Sholih on Sabtu, 08 Mei 2010 08:35 |
Di tengah-tengah masyarakat sering kita jumpai berbagai bentuk denda berkaitan dengan transaksi muamalah. Seorang karyawan yang tidak masuk kerja tanpa izin akan diberikan sanksi berupa pemotongan gaji. Telat membayar angsuran kredit motor juga akan mendapatkan denda setiap hari, dengan nominal rupiah tertentu. Seorang penerjemah buku juga akan didenda dengan nominal tertentu setiap harinya oleh penerbit, jika buku ternyata belum selesai diterjemahkan sampai batas waktu yang telah disepakati. Percetakan yang tidak tepat waktu juga dituntut untuk membayar denda dengan jumlah tertentu. Bayar listrik sesudah tanggal 20 juga akan dikenai denda oleh pihak PLN. Yang pertama adalah keputusan Majma’ Fikih Islami yang bernaung di bawah Munazhamah Mu’tamar Islami, yang merupakan hasil pertemuan mereka yang ke-12 di Riyadh, Arab Saudi, yang berlangsung dari tgl 23--28 September 2000. Hasil keputusannya adalah sebagai berikut: |
Sabtu, 08 Mei 2010
Serba serbi denda
Rabu, 28 April 2010
pesaingku karunia Allah untukku
Sabtu, 17 April 2010
korupsi dan pertumbuhan ekonomi
judul asli : Mengapa Korupsi TIDAK Seburuk yang Dibayangkan Banyak Orang
oleh : bung yodhia antariksa, M.Sc
Anak muda yang wajahnya mirip-mirip Tukul itu kembali menghempaskan negeri ini dalam tragedi korupsi yang teramat memilukan. Virus korupsi dan suap mungkin telah bersetubuh dan merasuk ke dalam sekujur tubuh republik ini.
Namun yang membuat saya acap terkesima adalah ini : jika nyanyian korupsi terus menderu dan mengharu biru segenap tanah bumi pertiwi, mengapa negeri ini tak jua kunjung bangkrut? Mengapa ditengah tarian suap yang terus meliuk-liuk, pertumbuhan ekonomi negeri ini (pada tahun 2009) tertinggi nomer tiga di dunia, sebuah prestasi ekonomi yang sungguh spektakuler?
Jawabannya mungkin agak mengejutkan : jangan-jangan korupsi itu memang tidak seburuk yang diduga banyak orang? Jangan-jangan korupsi justru membawa berkah terselubung bagi pertumbuhan bisnis dan ekonomi di negeri ini?
Make no mistake, my friends. Tulisan ringkas ini tidak sedang mempromosikan agar kita merayakan tindakan korupsi sambil bersulang segelas anggur. Kegiatan korupsi dan suap menyuap adalah salah satu worst evil yang sangat mencederai moralitas dan merobek-robek jalinan keadilan.
Dan dengan spirit itu, kita mau mencoba menjawab pertanyaan ini : mengapa korupsi merajalela, namun pertumbuhan ekonomi negeri ini terus berkibar-kibar?
Jawabannya mungkin sederhana : sepanjang uang jarahan hasil korupsi dan suap itu tidak disimpan di bank Singapore atau Swiss, namun tetap ditabung dan dibelanjakan di dalam negeri, maka ekonomi negeri ini akan terus tumbuh.
Dan mungkin persis seperti itulah yang terjadi : ribuan koruptor yang berjejer dari Sabang sampai Merauke, yang tiap bulan menilep uang trilyunan rupiah, segera membelanjakan dan menginjeksikan uang itu untuk menggerakkan ekonomi domestik.
Lihatlah mal-mal yang terus berdiri di setiap kota besar tanah air, proyek properti yang bertebaran dimana-mana, sementara angka penjualan mobil terus meningkat. Dan saya cukup yakin, konsumen beragam bisnis ini sebagian besar adalah para koruptor yang ingin membelanjakan uang suapnya. Dan “keajaiban” itu terjadi disini : uang hasil korupsi itu tiba-tiba menjelma menjadi pelumas yang menggerakkan roda beragam sektor ekonomi.
Jadi ketika mas Gayus yang sungguh gayus itu membeli rumah mewahnya di Kepala Gading seharga miliaran, sejatinya ia juga telah “membantu” menggerakkan sektor properti negeri ini : ia telah membantu menyediakan pekerjaan bagi ribuan tukang batu asal Kota Wonogiri, membuat industri semen terus bergerak, dan mendorong kehidupan bagi para perajin genteng Jatiwangi.
Dan persis seperti itulah yang dilakukan mas Gayus dan ribuan koruptor lain seperti dirinya : secara kolektif mereka menginjekasikan dan membelanjakan uang upetinya untuk mendorong begitu banyak kegiatan sektor ekonomi di negeri ini.
Argumen yang mau dibagi disini adalah : sekali lagi, sepanjang mayoritas uang jarahan korupsi itu dibelanjakan di dalam negeri, maka mungkin diam-diam para koruptor itu telah memberikan impak positif bagi pertumbuhan ekonomi tanah air. Sepanjang uang suap itu dikembalikan (melalui aneka konsumsi para penjarahnya) ke dalam sirkulasi ekonomi dalam negeri, maka itulah yang menjelaskan mengapa ekonomi negeri ini terus melejit.
Kita tahu, pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa ditopang oleh dua sektor utama, sektor investasi dan sektor konsumsi. Dan untuk kasus Indonesia, sektor konsumsi memegang peran amat dominan dalam menggerakkan ekonomi negeri. Disini, banyak pengamat bisnis tertegun dan berterima kasih dengan ketangguhan sektor konsumsi di Indonesia.
Dan seperti yang kita lihat, ketangguhan itu barangkali sebagian besar ditopang oleh daya beli para koruptor bumi pertiwi. Dan dalam konteks inilah, dengan penuh nada getir kita bisa berbisik : para koruptor itu mungkin diam-diam telah menjadi pahlawan ekonomi bangsa.
Bravo mas Gayus. Bravo Koruptor Indonesia !!
Kamis, 15 April 2010
AROGANSI KESUKSESAN
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (6) (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi (7) Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (8) Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah (9) Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak) (10) Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri (11) Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu (12) Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (13).” (QS. Al-Fajr: 6-13).
Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” ( Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal ).
Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya bahkan Tuahanpun ditentang. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, Keluarga, dan orang biasa.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud (11) Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (12) Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (13).” (QS. Al-A’raf: 11-13).
Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat ‘merakyat’ hidupnya. Akan tetapi, itu dulu.
Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, “Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda.” Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para ‘yes man’ yang tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu semakin ‘megalomania’ , pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.
Ada Seorang Pebisnis, dia menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya.
Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan antikritik. “Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa,” katanya pongah. Dia pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para ‘penjilat’ yang tidak berani melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang perlu up date diri dengan training.
Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, Ayah, Ibu yang tiap hari memberi sesuatu bagi orang lain.
Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka. Dia terjebak retorika ( Banyak Cerita Sejarah Lamanya )
Namun, itulah yang terjadi apabila orang berhenti belajar dan merasa diri sudah selesai. Tanpa dia sadari, lingkungannya terus belajar, berinovasi, dan berkembang. Sementara, dia mandek di posisinya. Akibatnya, kue kesuksesan yang dia peroleh lama-kelamaan menjadi basi. Tanpa sadar, kompetitor mereka bergerak jauh meninggalkan dirinya di belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, jurus yang itu-itu saja alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya untuk kreatif menemukan jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus mengembangkan kesuksesannya. Di sinilah, arogansi berujung pada malapetaka dan kehancuran.
Jadi, bagaimanakah agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi arogansi?
Pertama- Aware (sadar) dengan sikap dan tingkah laku kita selalu.
Meskipun sudah sukses, kita perlu memberi waktu untuk menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang lain. Selalulah sadar apakah nada dan ucapan serta tindak tanduk kita sekarang semakin membuat banyak orang lain terluka? Apakah kita masih tetap menghargai orang lain? Apalagi orang-orang yang telah turut membawa Anda ke level sukses sekarang, apakah Anda hargai? Jangan sampai, tatkala masih bersusah payah, kita begitu respek, tetapi setelah sukses justru mencampakkan mereka.
Seseorang dikatakan berhasil bukan sekedar ia sukses akan tetapi ketika orang lain mengatakan ia berhasil dan turut merasakan keberhasilan yang pernah diraihnya. Jadi keberhasilan dikatakan sempurna jika lingkungan sekitar mengatakan ia berhasil dengan cara yang benar dan mereka merasakan berkahnya. Namun sering kali kita lupa untuk intropeksi diri, yang membuat diri ini tumbuh dalam kekurangan rasa emosional dan spiritual.
Kedua- Waspadai umpan balik yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat kita belajar lagi.
Hati-hati dengan orang di sekeliling kita yang hanya mengatakan hal bagus, tetapi tidak berani memberikan masukan yang baik. Kadang, masukan negatif juga kita perlukan demi perkembangan, sesukses apa pun kita. Pada dasarnya, setiap orang senang dipuji. Bahkan mereka rela mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk dipuji. Namun pujian yang berlebihan justru dapat membuat seseorang semakin jatuh dalam kesombangannya dan ketidakmampuan dirinya melihat kenyataan dalam hidupnya
Ketiga- Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku Who Moved My Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita, apakah sudah basi ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus mencium dan peka bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi ancaman bagi kita. Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar
Keempat- Sopan dan rendah hati untuk belajar dari orang lain.
Sahabat, bentuk arogansi dan keangkuhan adalah symbol dari Iblis dan Fir’aun yang setelah mencapai puncak kesuksesan dan kekuasaan, dia kemudian mengangkat dirinya sederajat dengan Tuhan, dan apakah kesudahannya ? BINASA DI DUNIA, NERAKA DI AKHIRAT !
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (17) Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”(18) Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”(19) Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar (20) Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai (21) Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa) (22) Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya (23) (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (24) Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia (25).” (QS. An-Nazi’at: 17-25).
“Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata (45) Kepada Fir`aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong (46) Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”(47) Maka (tetaplah) mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka adalah termasuk orang-orang yang dibinasakan (48).” (QS. Al-Mukminun: 45-48).
http://www.rumah-yatim-indonesia.org
Sabtu, 10 April 2010
Nindi
Adalah solusi “internasional access only” berkecepatan tinggi dengan metode pra bayar, yang bisa digunakan dari provider manapun, dengan authentifikasi level 2 akan memastikan keamanan akun anda. Jadi apapun provider anda, gunakan Nindia untuk internasional link nya.
| Nindi 1 1024 burst 2048 Kbps Rp. 48.000,- per hour | Nindi 2 512 burst 1024 Kbps Rp. 30.000,- per hour |
| Nindi 3 256 burst 768 Kbps Rp. 18.000,- per hour | Nindi 4 128 burst 256 Kbps Rp. 7.000,- per hour |
Service level agreement 99%
24/7 technical support
Customized bandwidth
Maximum respond time 2 hour*
FirePort
adalah layanan internet port kecepatan tinggi, dengan reliabilitas luar biasa dan harga fantastis.
| FIREPORT | |||
| Mb/s | @ | monthly | dynamic /h |
| 1 | 5,000,000 | 5,000,000 | 14,000 |
| 2 | 5,000,000 | 10,000,000 | 28,000 |
| 3 | 4,500,000 | 13,500,000 | 42,000 |
| 4 | 4,500,000 | 18,000,000 | 56,000 |
| 5 | 4,000,000 | 20,000,000 | 70,000 |
| 6 | 4,000,000 | 24,000,000 | 84,000 |
| 7 | 3,750,000 | 26,250,000 | 98,000 |
| 8 | 3,750,000 | 30,000,000 | 112,000 |
| 9 | 3,750,000 | 33,750,000 | 125,000 |
| 10 | 3,500,000 | 35,000,000 | 139,000 |
dedicated shaper 1:1
Service Level Agreement 99%
24/7 technical support
Customized bandwidth
Maximum respond time 2 hour*
smart speed
adalah inovasi dari naratel berupa script system intelligent yang bekerja mengawasi lalu lintas paket data anda, menyusun skala prioritas serta membuat keputusan berdasarkan beban jaringan anda saat itu, dan pada kasus tertentu jika jaringan overload, maka sistem secara otomatis menambah bandwidth dalam orde tertentu sehingga performa jaringan tetap dapat dipertahankan dan tidak terjadi kemacetan traffic. Rangkaian proses ini terus berulang dalam orde mili detik, hal ini akan memastikan kenyamanan serta kecepatan optimal komunikasi yang anda lakukan melalui internet.
